\

Kamis, 27 Juni 2019

Jualan Online dimana : Media Sosial atau Marketplace


Saya pernah di tanya teman yang sepertinya punya keinginan jualan online. Dia tanya muter-muter. Mamun Inti dari pertanyaan itu saya tangkap begini :

Kalo jualan online bagus dimana: Media Sosial atau Marketplace.

Hhhmmmm...

Saya tidak antusias dengan pertanyaan tadi. Saya menganggap itu bukan keahlian saya. Apalagi ngomongin jualan online lewat platform media sosial . Saya tidak terjun disitu. Saya bukan pengguna aktif media sosial.

Ada sih akun twitter tapi  ga ada followernya  *oopss*.  Facebook hanya sekedar akun mati, bahkan akun personal belum lama saya hapus. Masih ada empat akun tapi semua fanpages. Isinya: cuma share link postingan blog. Bosen, bosen deh tuh follower. Siapa suruh klik tombol like segala 😁. 

Instagram, ga pernah tuh  terlintas pengen bikin akun disana. IG adalah representasi orang-orang bahagia. Saya mungkin tidak masuk kategori itu 😔.

Saya cuma gelandangan online yang keseharian bercengkrama dengan mesin pencari. Bergulat dengan kosa kata. Menggoda pembaca, dan "berperang" dengan para webmaster.

Namun apa mau dikata, teman tadi  telah melabeli saya sebagai penjual online. Label yang akhirnya saya terima dengan penuh keterpaksaan 😁.

Terlebih, saya tidak ingin mematahkan semangat si teman yang berhasrat wirausaha. Maka dengan gaya sok tahu saya  memberi kuliah lebih tujuh menit tentang dunia online shopping , gratis tanpa syarat.😊 (meskipun alasan paling masuk akal kenapa saya mau ngasih "kuliah" adalah supaya  saya di anggap  pinter, itu aja 😂😂)

Toh  saya pikir untuk jadi pelatih tidak mesti mantan  pemain.  Untuk menjadi joki tidak mesti jadi kuda dulu kan.  Atau mereka yang jual kelas pembelajaran, workshop, atau apalah namanya, belum tentu seorang praktisi handal.. Bisikin dong gan nama tokonya. 🙏

Disclaimer dulu : 
Bagi yang punya mood sedang tidak bagus. Atau punya selera humor tingkat dewa jangan lanjutkan membaca ya. Karena kelanjutan artikel ini bisa bikin mual mules serta berdampak pada serangan jantung.  Kalo sudah begitu bisa repot nyari obat. Ngetok warung tetangga bisa di guyur air. Apotek di sebelah buka cuma sampe jam setengah sembilan malam. Mba Apotek juga udah tidur :)

**

Mengawali "perkuliahan" saya katakan pada si teman supaya jalan di keduanya : di Media Sosial (Medsos) dan di Marketplace (MP) . Nanti akan ketemu  pada satu titik dimana kita bisa mengatakan : oww... jualan online enak di marketplace, gak ribet. Di tinggal tidur orderan tetap masuk.. . . Atau... enak jualan di FB tahu, bisa ngambil margin gedean 😁... Atau : Di MP atau di Medsos sama-sama enak, yang penting dapat duit.

Sebelum ketemu pada titik itu, mari kita bahas soal kemungkinan  cocok dimana, hal ini juga yang saya sampaikan pada teman tadi.

Produk dan Pasar.
Ini sangat menentukan. Produk best selller di marketplace Tokopedia belum tentu laku di Facebook.  Banjir order di Instagram tidak menjamin akan sama terjadi di Bukalapak. Pun begitu jika mampu closing di Shopee, tidak serta merta bisa closing di Twitter meski sudah  bayar mahal influencer.

Jual Airsoftgun di MP jelas bukan tempat yang tepat. Selain menyalahi aturan, produk ini lebih mudah di terima jika diperdagangkan  dalam komunitas #salamsatularas.

Memasarkan produk berbasis  MLM di MP mungkin bukan langkah tepat. Selain (mungkin) menyalahi perizinan direct selling, model bisnis ini erat kaitannya dengan perekrutan member.

Meng-online-kan sembako, menjual barang recehan, mungkin menarik minat facebooker.  Namun tidak efisien waktu bagi penjual.

Terlepas dari contoh diatas, ada satu kesan kuat yang saya tangkap : barang barang terjual  di marketplace ada di semua range harga. Dari seratus rupiah hingga jutaan rupiah. Sementara di media sosial  ada di kisaran tengah-tengah, puluhan ribu hingga ratusan ribu per item.

Tata Kelola, Gaya dan Karakter
Media sosial  didesain untuk pertemanan. Memasarkan produk disitu sama dengan menjual kepada teman-teman sendiri (terlepas dari jauh dekat mereka, atau hanya sekedar teman daring). Agak melebar  sedikit bolehlah kita sebut menjual kepada komunitas dan "penggemar".

Maka kemudian diperlukan   kepercayaan dan ikatan lebih. Dengan kepercayaan dan ikatan yang kuat diharapkan teman-teman daring mau  memainkan tombol-tombol elektronik banking.

Kepercayaan, Ikatan atau faktor penunjang lain terbentuk setelah orang lain mengenal siapa saya sebagai penjual. Disini mutlak diperlukan kemauan seorang penjual  mengungkap siapa dirinya. Dalam arti, status personal di media sosial dapat "diterima" sebagai konsumsi public. Tak heran penjual top di FB atau IG, adalah mereka pemilik tongsis, eksis, dan (mau sedikit) narsis 🙏👍.

Yang  cukup saya sayangkan dari penjual online di medsos  kalau  dia terlalu menunjukan preferensi politik. Saya pernah melihat  status si penjual  di penuhi dengan isu-isu politik yang kebenarannya sangat di ragukan.

Sudahlah, meskipun anda seorang cebong garis keras, atau seorang kampret bayaran, kalo akun media sosial digunakan untuk jualan, ngapain di tunjukan. Bisa-bisa calon pembeli kabur duluan karena beda selera.

Lain hal jika berjualan di Marketplace, disini semua orang mampu berjualan.

Seorang pemalu. Seorang periang . Seorang introvert. Seorang extrovet. Bahkan seorang dengan  arogansi tingkat tinggi sekalipun bisa berkembang. Tentu ada kiat  yang perlu dimainkan, namun itu tidak berkaitan dengan faktor eksis narsis.

Buyer  MP tidak perlu penjual seorang selebgram. Tidak perlu se narsis Princes Syahrini atau seheboh Atta  Geledek.
Buyer MP cenderung berorientasi pada harga, ulasan pembeli, kecepatan kirim, kecepatan respon, yang kesemuanya  bermuara pada reputasi. Reputasi yang terecord jelas di website MP. 

Hal   penting lain dalam mengelola olshop adalah soal  waktu.

Seorang dengan akvitas harian karyawam misalnya. Dia lebih  ideal berjualan di MP.  Dia tidak akan di pusingkan  ngurusin pembayaran atau chat  berlebih.

Apa jadinya jika seorang karyawan sedang meeting, atau lagi sibuk ngerjain laporan di kejar dateline, sementara di layar ponsel di chat ini itu oleh calon pembeli. Chat yang nyaris tidak ada di MP. Misalnya soal lokasi penjual, metode pembayaran, tarif ekspedisi, dll.

Dukungan Ekspedisi
Ada perbedaan mendasar tipikal penjual online berbasis medsos dan marketplace. Mungkin ini bisa jadi perhatian buat yang mau berjualan online, seperti teman saya.

Seller Medsos bisa ( kadang) mengabaikan kecepatan ekspedisi. Sepanjang counter ekspedisi mudah di jangkau, semua ekspedisi di pake. Cepat atau lambat bukan urusan saya. Toh pembeli yang milih. Saya hanya hanya mengikuti. Dalam bahasa klasik : amanah, katanya.

Maka yang terjadi cenderung pada pilihan ekspedisi bertarif murah.  Cepat atau lambat bukan urusan saya. Ada masalah di pengiriman bagaimana nanti. Toh pembeli yang minta. Saya hanya menjalankan amanat.

Mindset akan berbeda jika  bergabung di platfom marketplace.  Kurir lelet, mingggiiiirrrr..... Ekspedisi banyak masalah, BLACKLIST. .... Counter gak mau ngasih diskon, GANTI. ... Perlu diskon ongkir ? Wong Cirebon silahkan hubungi saya, syarat dan ketentuan berlaku 😁.

Hal diatas  tak lain  terkait dengan Escrow dan Cashflow.

Akan jadi menyebalkan jika mengirim pesanan dengan kurir lelet. Duit di tahan escrow marketplace sampai barang di terima pembeli, sementara  penjual perlu restok barang.  Apa ga kacau balau tuh cashflow.

Kalo memgirim satu, dua, sepuluh paket perhari, atau punya modal besar mungkin masih bisa adem. Tapi kalo sudah mengirim puluhan, ratusan, bahkan ribuan paket perhari  baru akan berasa. Duit barang terjual belum di terima. Nalangin ongkir pulak. Gawat bah. Ini medan MP bung. Horassss... (teu nyambung geh pokonamah horasss.. Bagen bae sapa sing suruh baca.. Beneh keto Bli/mbok? )

Saya pernah kewalahan nalangin ongkir untuk mengirim pesanan sampai  harus mengeluarkan kartu kredit untuk membayar ekspedisi. Dua kartu kredit limit habis tidak sampe satu bulan. Apa ga pusing tuh kepala.

Metode  Pembayaran
Sebenarnya saya pernah Nulis metode pembayaran olshop di Blog lain. Panjang. Cukup rinci. Tapi karena Blog itu untuk tujuan monetisasi maka saya gak mau kasih link kesana hehe...

Tapi okelah ya. Kita bahas sedikit disini sebelum ngantuk. Lagian mba2 M2M dan teteh Celine Dion masih mau nemenin saya. The day you went away,  Because you loved me dan Immortality, dari tadi bolak balik 🤣🤣

Skip.. Skip..

Berjualan di MP penjual tidak punya kuasa menerapakan metode pembayaran yang di gunakan. Pihak MP sudah menyediakan ragam opsi pembayaran  untuk kemudahan pembeli.  Pembeli bisa bayar pake kartu kredit. Transfer Bank. Transfer emoney, bayar di gerai mini market, bahkan COD.
Bagi penjual sendiri  ini bukan masalah. Karena dia hanya perlu memiliki satu rekening bank untuk menarik dana hasil penjualan.

Sementara para penjual di Medsos di indonesia (termasuk di website sendiri), dalam pengamatan saya, ( koreksi jika saya salah) hanya menerapkan metode transfer bank. Itupun hanya sebatas bank itu itu saja.

Saya cukup kesulitan menganalisis kecenderungan ini . Ada pertanyaan besar di kepala saya yang sampai saat ini belum terpecahkan. Soal penggunaan transfer bank itu itu saja. Dan tidak adanya alternatif lain.

Ada banyak bank di indonesia dengan teknologi elektronik banking bagus. Ada  cukup banyak produk tabungan bebas biaya administrasi bulanan. Sementara yang banyak dipake bikin pusing kepala dalam hal user interface dan user experience. 

Persaingan Harga.
Ini yang paling ga enak. Persaingan harga di marketplace sudah sampe pada tingkat berdarah-darah. Sementara di media sosial terlihat lebih bersahabat.

Sampai sejauh mana persaingan harga di marketplace akan saya bahas khusus di lain waktu. Mengingat betapa kejamnya dunia marketplace, atau lebih tepatnya, saya sudah ngantuk.😁

Sampai jumpa. 

Baca juga ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

derawai.com 2012-2018 I About usI Contact usI