\

Sabtu, 02 Maret 2019

Di Simpang Jalan

Jalan ini. Malam ini tampak ramai.   Ojol hijau  biru menerobos  angkutan kota dan kendaraan berplate B.  Aku maklum. Ini malam minggu. Kota kecilku  banyak kedatangan tamu warga ibu kota.

Menoleh kekanan. Satu demi satu kulihat orang menambah suasana alun-alun.  Ada acarakah, atau hanya kebiasaan di malam minggu. Aku tak tahu.

Aku disini.  Ditengah kota ini. Bukan titik yang sering kusinggahi. Aku disini. Terdampar pada situasi yang aku sendiri tak tahu harus bagaimana.

Berharap  segelas kopi hitam dapat membantuku mengambil keputusan rasanya tidak mungkin. Rasanya kurang enak. Bagaimana mungkin bisa membuat aku terbang.

Tapi aku sadar. Memesan kopi di pinggir jalan ini adalah keputusan tepat. Aku bisa numpang duduk disini. Warung pinggir jalan. Dengan 3000 Rupiah aku bisa duduk sepuasnya. Meski yang kubutuhkan hanya satu atau dua jam dari sekarang.

Ya.. Jam dua puluh nanti. Satu jam dari sekarang. Aku janji ketemu Elsa di DD. Toko waralaba yang baru  mengubah brand menjadi D saja. 

Sementara jam dua satu, aku menyanggupi ketemu Rida. Di stasiun kereta.
Elsa punya rencana: di DD dia break sejenak. Menyiapkan kado. Untuk kemudian ke acara  ulang tahun temannya.  Bersamaku.

Semula aku keberatan. Aku tidak bersedia. Itu bukan kebiasaanku.

Aku orang kampung tulen. Ndeso. Hiburanku. Liburanku adalah sawah. Sungai. Kebun. Atau aktivitas khas orang desa. Duniaku ada dipedesaan. Kalaupun aku bisa berteman dengan orang-orang kota. Orang-orang kaya. Tak lain karena urusan pekerjaan. Selebihnya, aku adalah anak kampung. Titik.

Dalam perdebatan panjang. Di telp. Chat. Pertemuan. Akhinya Aku menyerah.

Pun begitu ketika aku ingin membatalkan rencana. Karena aku punya rencana lain di  jam 21, aku tak bisa berkilah. Dari pada ribut.

"Kamu sudah janji, Dre"  kata Elsa. Tegas.

Elsa yang ku kenal adalah orang  tegas, disiplin dan pintar.  Dia juga keras kepala, sama denganku. Galak, sedikit dibawahku. Egois, jauh diatasku.

Kombinasi karakter, di tambah kemampuan mengerjaan sampai pada hal-hal detil itulah yang kuduga Elsa di percaya supermarket tempatnya bekerja menjadi kepala kasir dalam waktu relatif singkat, 15 bulan saja.

Elsa yang lincah. Cantik. Andai saja kau bisa meredam sedikit ego-mu. Pasti aku sanggup berlama-lama. Ngobrol. Debat.
Aku tahu banyak tema yang di keluarkan dari isi kepalamu.

Elsa, andai kau bisa sedikit lunak. Mungkin di tiap pertemuan, tidak  mesti di akhiri pertengkaran. Kau bilang aku  kepala batu. Itu betul. Tapi kamu sendiri kepala apa?

Elsa, apakah tidak ingin mendengar sedikit saja nasehat ibumu: Sesekali mengalah. Apakah tidak bosan di tertawakan ibu dan adikmu : Awas dua jam lagi akan ada perang. Besok genjatan senjata.

Malam ini aku terkondisikan pada situasi serba salah. Aku salah. Ku akui aku salah. Kenapa aku harus menyanggupi permintaan Rida. Menjemputnya di stasiun. Jam 21. Sesuai jadwal kedatangan kereta.

Aku yang keras kepala kenapa tidak bisa mengatakan tidak padanya.

Aku coba jujur. Aku ada acara sama Elsa. 
Tapi aku tak sanggup dengan responnya.

"Siapa tahu kereta telat Dre"

"Bukannya kereta sekarang lebih ontime. Kalaupun telat ga seberapa"

"Kalo gitu kamu datang setelah  acaramu selesai. Nanti aku yg nunggu gpp"

"Ya ampun Rida. Selesai jam berapa aku gak tahu. Lagi pula kamu sanggup   berapa lama nunggu"

Aku berusaha menjelaskan pada Rida. Aku tidak bisa. Bukan tidak mau. Aku sudah terlanjur janji pada Elsa. Mana mungkin aku batalin.

"Gapapa Dre aku tunggu. Kalo jam 12 kamu ga bisa. Kabari aku ya. Biar ada kepastian. Nanti aku pulang sendiri."

"Eh.. Jangan.. Jangan gitu Rid.. Iya aku bisa.. Aku bisa .. Aku bisa sampe.. Bisa sampe sebelum kereta tiba... aku bisa Rid.. Aku usahain ya"

Aku mengenal Rida jauh sebelum mengenal Elsa. Aku sempat menjalin hubungan dengannya sebelum dipisahkan jarak.

Rida anak baik. Tidak banyak tingkah. Kalo dibanding Elsa, sifat Rida bertolak belakang 180 derajat. Kami tidak pernah bertengkar dar der dor.  Yang ada Rida malah sering nangis kalo berbeda pendapat.

Secara fisik tentu Elsa lebih menarik. Ah kok rasanya aku sombong.
Membandingkan fisik manusia. Sementara mereka sama-sama ciptaan tuhan. Dengan maksud dan tujuan yang kita tidak tahu.
Kenapa aku tidak bisa berpikir positif pada tuhan. Dengan rencananya. Menciptakan manusia berbeda secara lahiriah.

Rida meninggalkan kampung halaman dengan alasan klise perempuan desa: Mencari pekerjaan. Di desa susah cari kerja. Sayang ijazah kalo ga pake.

Kini Rida mudik. Dia bilang sudah cukup tiga tahun di perantauan. Di kota orang. Cukup menambah pengalaman. Semoga cukup modal untuk berwirausaha. Dan yang paling menyakitkanku: dia Ingin segera menikah.

Dengan siapa Rid?

Aku tak mendapat jawaban darinya selain tangisan.
**
Makin malam jalanan makin Ramai. Anak-anak muda. Milenia. Ceria. Tertawa.     Selaras dengan bintang-bintang bertebaran di langit sana. Malam ini indah bagi mereka.

Sementara aku sendiri. Disini. Terlibat pada pergulatan dilema. Masalah yang kubuat sendiri.

Kopi hitam ini sudah tidak masuk ke tenggorokanku. Hanya berbatang-berbatang sigaret yang jadi pelampiasan.

Ponselku tak lagi jadi alat hiburan dunia maya.  Kesana kemari yang dirasakan sebagai serba asem.

Anak-anak kaskus pada tiarap. Tidak ada yang seru buat di komentari. Mampir ke Facebook rasanya kok gitu-gitu aja. Spamer tak habis-habis. Demi kepentingan tak jelas. Warganet di arahkan untuk berdoa : Amin. Seolah-olah rakyat darurat berdoa.

Mampir ke IG, rasanya ini bukan duniaku. IG adalah cerminan rakyat bahagia. Bahagia semu atau sungguhan, tetap bertolak belakang denganku. Aku sedang bermasalah saat ini.

Sedikit terhibur masuk time line twitter. Kondisi "perang saudara". Hiruk pikuk cebong kampret tenggelam oleh cuitan lucu tentang kaum jomblo ngenes. Meme jomblo yang pada kondisi normal bisa membuat aku tertawa ngakak. Nyatanya, aku tak mampu bertahan lama. Aku keluar.

Lima belas menit jelang jam dua puluh teng.  Hp klasik kesayangan berdering. HP jelek. Hp yang sudah tak ada peminat ketika kucoba jual melalui status WA.

Siapa dia?

Semula kupikir Elsa. Tapi aku cepat sadar ini  bukan Elsa. Panggilan telp dari Elsa nyaris selalu via WhatsApp. Kalaupun telpon kenomor ini. Nada dering kubuat khusus. Lagu dari Lenka : Trouble is Friend. 

Nada dering sebagai pembeda supaya aku cepat angkat telepon. Kalo tidak,  bisa perang sebelum masuk tema. Intro yang tak nyaman didengar: Kok lama sih... Kamu dimana.. Sama siapa.. Dasar nenek lampir tidak bisa sabar umpatku dalam hati.. Kenapa ga sekalian bilang:  kamu dimana.. Sama siapa.. semalam berbuat apa.. Kalah Babang Tampan... Ya kan? Iya dong. Bener kan? Bener dong. Setuju gak? Setuju ajalah ya.

"Halo bray... " suara di seberang sana.

"Ada apa kaleng krupuk.. " jawabku sekenanya. Pelan. Ternyata yg menelponku Jokim, teman di kampungku.

"Eh.. banteng ijo.. Komodo liar.. Gajah duduk.." balas Jokim tertawa ngakak.

"Lagi dimana bray.. Ini anak-anak pada nungguin"

"Mars" kujawab  datar.

"Waduh kaco kamu bray.. Bisa mati.. Jangan mati dulu bray.. .. . Belum kawin.. Elsa mau dikemanain... wkwkekk.... "

Aku tak merespon serius celotehan si Jokim dan sahutan tiga tikus got di belakangnya.

Kembali aku terdiam. Berdebar jantungku. 
Dalam bebera menit aku harus memutuskan. Kekanan: Aku temui Elsa. Kekiri: Kutemui Rida, satu jam lagi.

Kanan Elsa. Kiri Rida.... Kanan Elsa. Kiri Rida... Kemana?

Dering ponselku berbunyi. Sebuah notif bar WA menggantung diatas layar. Ternyata dari Si Jokim.
=
Hasil voting bray :
Elsa : 2
Rida : 2
不不不不不
=
Belum lagi aku sempat membalas chat Si Jokim. Sesosok wajah muncul di layar ponsel. Wajah yang sangat ku kenal. Wajah yang selama setahun ini hadir dalam keseharianku.  Elsa. Muncul dalam sebuah panggilan video WhatsApp.

Kumatikan.

Kutelepon dia dengan panggilan suara. Gagal.

Kupanggil lagi...

"Halo.. Aku udah nyampe Dre"

Aku diam sejenak.  Bergerak beberapa langkah. Menjauh. Supaya tak di dengar orang.

"Halo dre.. Halo .. Dre.. Dre.. "

"Iya.. Aku denger" jawabku.

"Kamu dimana Dre.. Aku udah nyampe"

"Sori El.. Aku ga bisa"

"Maksud kamu?" Elsa seperti terkejut.

Aku diam. Sepi.

"Kamu sudah janji Dre.. "

"Aku ga bisa El.. "

"Kamu bisa!"

"Nggak!"

"Bisa!"

"Iya bisa.. Tapi aku gak mau!"

"Kamu udah janji..!"

"Aku juga ada janji..!"

Elsa diam. Aku diam. Sepi.

"Begini saja....Aku kesitu. ..Antar kamu sampe tempat acara.. . Terus aku pulang.. Gimana"

"Kamu dimana?"

"Dua menit aku bisa sampe"

"Aku tunggu empat menit dari sekarang"

"Jawab rencanaku!"

"Tiga menit..!"

"Jawab..!!"

"Dua menit setengah..!!"

"Jawab dulu..!"

"Dua menit..!"

Tututut.. Tututut... Tututut.... Elsa memutus sambungan telepon.

Aku geram. Nafasku bergetar. Ingin rasanya kulempar ponsel ini. 

Aku terbayang wajah Elsa. Terbayang bagaimana memerah wajahnya saat dia marah. Sepersekian detik kemudian terlintas wajah Rida. Raut wajah yang hanya bisa menampilkan senyum dan tangis.

Aku disini. Malam ini. Seperti ada disimpang jalan. Saat ini. Detik. Aku harus memilih satu jalan : Kanan atau kiri.

Aku tidak bisa memilih dua jalan sekaligus pada saat bersamaan. Banyak jalan menuju roma. Tapi hanya satu jalan  yang harus di lalui.

Ketegasan Elsa tidak mau kompromi dengan penawaranku seperti memberi kejelasan soal ini. Cuma ada satu jalan yang harus kulalui.

Kuputuskan sekarang : Aku pilih belok kiri.

Salah atau benar keputusan yang kubuat malam ini, biarlah waktu yang akan menjawab.
===
Cerita ini Fiksi ya ✋

Baca juga ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

derawai.com 2012-2018 I About usI Contact usI