\

Rabu, 06 Februari 2019

Ngomongin PT Pos Indonesia


Aksi demo ribuan karyawan PT. Pos  Indonesia (Pak Pos) hari ini  menarik perhatian saya, termasuk sebagian warganet.

Bagaimana tidak, kita-kita yang telah hidup sebelum jaman SMS, e-mail dan instant messaging,  punya banyak memori dan keterikatan dengan pak pos / kantor pos. Setidaknya kesan itulah yang saya tangkap dari komentar pembaca di portal berita dan linimasa. Terlepas dari  sebagian  komentar nyinyir yang juga ikut mengiringi.

Pada dasarnya, sebagai buyer online di marketplace,  saat ini saya tidak memilih pos sebagai pilihan utama, meskipun juga tidak menjadikannya di opsi paling buncit.

Lain halnya jika  bertindak sebagai penjual online. Saya sudah lebih dari satu tahun tidak lagi menggunakan layanan pt pos indonesia.

Aksi demo ribuan pak pos di jakarta hari ini sedikitnya membuat saya bertanya :
Kenapa perusahaan jasa logistik dengan jaringan sangat luas.  (Bisa jadi) Di setiap kecamatan ada. Kalah bersaing. Malah dengan perusahaan swasta yang baru lahir kemarin sore. Malah kabarnya PT Pos Indonesia rugi.

Sebagai orang awam bisnis, saya tak habia pikir, perkembangan dunia e-comerce lokal yang semakin pesat, yang seharusnya jadi kue menggiurkan untuk pelaku induatri logistik ternyata tidak  dapat di maksimalkan pt Pos.

Belum lagi kalo kita  perhatikan lokasi kantor pos. Property-property mereka yang ada di pusat kota. Apa iya tidak bisa di manfaatkan menjadi ladang duit.

Ya sudahlah, sambil berharap pt pos bangkit, saya berbagi kisah masa lalu dalam hubungan dengan pt. pos.

- Pada masa kecil, saya sering di suruh  orang tua dan tetangga mengirim surat ke kantor pos. Posisi kantor pos yang berada di seberang sekolah biasanya saya kunjungi pada jam istirahat.  Saya bahkan masih ingat nama petugas pos cantik itu, namanya Rina. Mba Rina begitu saya memanggilnya. 😍

- Pada minggu kedua sampai ketiga  setiap bulan di medio 2012-2014, saya selalu menantikan kedatangan pak pos kerumah. 

Saya gatal ingin segera menerima sesuatu yang didalamnya  berisi lembaran kertas berisi angka 😁. Ya.. Kertas itu adalah selembar cek yang di terbitkan silicon valley bank sebagai  konpensasi  online earning saya dari perusahan periklanan Adbrite.  Cek itu lalu saya cairkan di BRI Kartini Cirebon, meskipun  harus menunggu 10-14 hari proses inkaso keluar negeri agar benar-benar cair. Masuk ke saldo tabungan.

Sayangnya, Adbrite kemudian bangkrut, sehingga saya tak lagi menantikan pak pos kerumah. Kalaupun beberapa kali pak pos masih mengantar amplop isinya bukan lagi  cek, tapi  voucher. Voucher Jco, Voucher BreadTalk, yang merupakan konpensasi dari mengisi waktu luang bersama perusahaan survey

- Sampai dengan (kalo tidak salah) akhir tahun 2015 saya masih rutin mengunjungi kantor pos. Antara tanggal 22-26 tiap bulan ke kantor pos ngambil western union yang merupakan "gaji  dari google sebagai konpensasi memasang iklan di blog.
Sekarang, atau sejak pembayaran google adsense bisa melalui transfer bank, maka saya pun tak lagi perlu ngambil western union di kantor pos.

- Sementara soal pengalaman kurang menyenangkan dengan pt Pos adalah ketika mengirim pesanan atas transaksi di tokopedia. Kirim ke sukabumi satu bulan  belum sampai. Setelah komplain sana sini, akhkirnya saya bertemu dengan mba Ratna, yang saat itu adalah customer service yang bertugas di kantor pos besar cirebon, area pelabuhan. Di proses. Besoknya barang sampe ke tangan pembeli di sukabumi. 

××
Menutup tulisan ini sekali saya berharap pt pos bisa bangkit. Semoga.

Baca juga ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

derawai.com 2012-2018 I About usI Contact usI