\

Kamis, 27 Juni 2019

Jualan Online dimana : Media Sosial atau Marketplace


Saya pernah di tanya teman yang sepertinya punya keinginan jualan online. Dia tanya muter-muter. Mamun Inti dari pertanyaan itu saya tangkap begini :

Kalo jualan online bagus dimana: Media Sosial atau Marketplace.

Hhhmmmm...

Saya tidak antusias dengan pertanyaan tadi. Saya menganggap itu bukan keahlian saya. Apalagi ngomongin jualan online lewat platform media sosial . Saya tidak terjun disitu. Saya bukan pengguna aktif media sosial.

Ada sih akun twitter tapi  ga ada followernya  *oopss*.  Facebook hanya sekedar akun mati, bahkan akun personal belum lama saya hapus. Masih ada empat akun tapi semua fanpages. Isinya: cuma share link postingan blog. Bosen, bosen deh tuh follower. Siapa suruh klik tombol like segala 😁. 

Instagram, ga pernah tuh  terlintas pengen bikin akun disana. IG adalah representasi orang-orang bahagia. Saya mungkin tidak masuk kategori itu 😔.

Saya cuma gelandangan online yang keseharian bercengkrama dengan mesin pencari. Bergulat dengan kosa kata. Menggoda pembaca, dan "berperang" dengan para webmaster.

Namun apa mau dikata, teman tadi  telah melabeli saya sebagai penjual online. Label yang akhirnya saya terima dengan penuh keterpaksaan 😁.

Terlebih, saya tidak ingin mematahkan semangat si teman yang berhasrat wirausaha. Maka dengan gaya sok tahu saya  memberi kuliah lebih tujuh menit tentang dunia online shopping , gratis tanpa syarat.😊 (meskipun alasan paling masuk akal kenapa saya mau ngasih "kuliah" adalah supaya  saya di anggap  pinter, itu aja 😂😂)

Toh  saya pikir untuk jadi pelatih tidak mesti mantan  pemain.  Untuk menjadi joki tidak mesti jadi kuda dulu kan.  Atau mereka yang jual kelas pembelajaran, workshop, atau apalah namanya, belum tentu seorang praktisi handal.. Bisikin dong gan nama tokonya. 🙏

Disclaimer dulu : 
Bagi yang punya mood sedang tidak bagus. Atau punya selera humor tingkat dewa jangan lanjutkan membaca ya. Karena kelanjutan artikel ini bisa bikin mual mules serta berdampak pada serangan jantung.  Kalo sudah begitu bisa repot nyari obat. Ngetok warung tetangga bisa di guyur air. Apotek di sebelah buka cuma sampe jam setengah sembilan malam. Mba Apotek juga udah tidur :)

**

Mengawali "perkuliahan" saya katakan pada si teman supaya jalan di keduanya : di Media Sosial (Medsos) dan di Marketplace (MP) . Nanti akan ketemu  pada satu titik dimana kita bisa mengatakan : oww... jualan online enak di marketplace, gak ribet. Di tinggal tidur orderan tetap masuk.. . . Atau... enak jualan di FB tahu, bisa ngambil margin gedean 😁... Atau : Di MP atau di Medsos sama-sama enak, yang penting dapat duit.

Sebelum ketemu pada titik itu, mari kita bahas soal kemungkinan  cocok dimana, hal ini juga yang saya sampaikan pada teman tadi.

Produk dan Pasar.
Ini sangat menentukan. Produk best selller di marketplace Tokopedia belum tentu laku di Facebook.  Banjir order di Instagram tidak menjamin akan sama terjadi di Bukalapak. Pun begitu jika mampu closing di Shopee, tidak serta merta bisa closing di Twitter meski sudah  bayar mahal influencer.

Jual Airsoftgun di MP jelas bukan tempat yang tepat. Selain menyalahi aturan, produk ini lebih mudah di terima jika diperdagangkan  dalam komunitas #salamsatularas.

Memasarkan produk berbasis  MLM di MP mungkin bukan langkah tepat. Selain (mungkin) menyalahi perizinan direct selling, model bisnis ini erat kaitannya dengan perekrutan member.

Meng-online-kan sembako, menjual barang recehan, mungkin menarik minat facebooker.  Namun tidak efisien waktu bagi penjual.

Terlepas dari contoh diatas, ada satu kesan kuat yang saya tangkap : barang barang terjual  di marketplace ada di semua range harga. Dari seratus rupiah hingga jutaan rupiah. Sementara di media sosial  ada di kisaran tengah-tengah, puluhan ribu hingga ratusan ribu per item.

Tata Kelola, Gaya dan Karakter
Media sosial  didesain untuk pertemanan. Memasarkan produk disitu sama dengan menjual kepada teman-teman sendiri (terlepas dari jauh dekat mereka, atau hanya sekedar teman daring). Agak melebar  sedikit bolehlah kita sebut menjual kepada komunitas dan "penggemar".

Maka kemudian diperlukan   kepercayaan dan ikatan lebih. Dengan kepercayaan dan ikatan yang kuat diharapkan teman-teman daring mau  memainkan tombol-tombol elektronik banking.

Kepercayaan, Ikatan atau faktor penunjang lain terbentuk setelah orang lain mengenal siapa saya sebagai penjual. Disini mutlak diperlukan kemauan seorang penjual  mengungkap siapa dirinya. Dalam arti, status personal di media sosial dapat "diterima" sebagai konsumsi public. Tak heran penjual top di FB atau IG, adalah mereka pemilik tongsis, eksis, dan (mau sedikit) narsis 🙏👍.

Yang  cukup saya sayangkan dari penjual online di medsos  kalau  dia terlalu menunjukan preferensi politik. Saya pernah melihat  status si penjual  di penuhi dengan isu-isu politik yang kebenarannya sangat di ragukan.

Sudahlah, meskipun anda seorang cebong garis keras, atau seorang kampret bayaran, kalo akun media sosial digunakan untuk jualan, ngapain di tunjukan. Bisa-bisa calon pembeli kabur duluan karena beda selera.

Lain hal jika berjualan di Marketplace, disini semua orang mampu berjualan.

Seorang pemalu. Seorang periang . Seorang introvert. Seorang extrovet. Bahkan seorang dengan  arogansi tingkat tinggi sekalipun bisa berkembang. Tentu ada kiat  yang perlu dimainkan, namun itu tidak berkaitan dengan faktor eksis narsis.

Buyer  MP tidak perlu penjual seorang selebgram. Tidak perlu se narsis Princes Syahrini atau seheboh Atta  Geledek.
Buyer MP cenderung berorientasi pada harga, ulasan pembeli, kecepatan kirim, kecepatan respon, yang kesemuanya  bermuara pada reputasi. Reputasi yang terecord jelas di website MP. 

Hal   penting lain dalam mengelola olshop adalah soal  waktu.

Seorang dengan akvitas harian karyawam misalnya. Dia lebih  ideal berjualan di MP.  Dia tidak akan di pusingkan  ngurusin pembayaran atau chat  berlebih.

Apa jadinya jika seorang karyawan sedang meeting, atau lagi sibuk ngerjain laporan di kejar dateline, sementara di layar ponsel di chat ini itu oleh calon pembeli. Chat yang nyaris tidak ada di MP. Misalnya soal lokasi penjual, metode pembayaran, tarif ekspedisi, dll.

Dukungan Ekspedisi
Ada perbedaan mendasar tipikal penjual online berbasis medsos dan marketplace. Mungkin ini bisa jadi perhatian buat yang mau berjualan online, seperti teman saya.

Seller Medsos bisa ( kadang) mengabaikan kecepatan ekspedisi. Sepanjang counter ekspedisi mudah di jangkau, semua ekspedisi di pake. Cepat atau lambat bukan urusan saya. Toh pembeli yang milih. Saya hanya hanya mengikuti. Dalam bahasa klasik : amanah, katanya.

Maka yang terjadi cenderung pada pilihan ekspedisi bertarif murah.  Cepat atau lambat bukan urusan saya. Ada masalah di pengiriman bagaimana nanti. Toh pembeli yang minta. Saya hanya menjalankan amanat.

Mindset akan berbeda jika  bergabung di platfom marketplace.  Kurir lelet, mingggiiiirrrr..... Ekspedisi banyak masalah, BLACKLIST. .... Counter gak mau ngasih diskon, GANTI. ... Perlu diskon ongkir ? Wong Cirebon silahkan hubungi saya, syarat dan ketentuan berlaku 😁.

Hal diatas  tak lain  terkait dengan Escrow dan Cashflow.

Akan jadi menyebalkan jika mengirim pesanan dengan kurir lelet. Duit di tahan escrow marketplace sampai barang di terima pembeli, sementara  penjual perlu restok barang.  Apa ga kacau balau tuh cashflow.

Kalo memgirim satu, dua, sepuluh paket perhari, atau punya modal besar mungkin masih bisa adem. Tapi kalo sudah mengirim puluhan, ratusan, bahkan ribuan paket perhari  baru akan berasa. Duit barang terjual belum di terima. Nalangin ongkir pulak. Gawat bah. Ini medan MP bung. Horassss... (teu nyambung geh pokonamah horasss.. Bagen bae sapa sing suruh baca.. Beneh keto Bli/mbok? )

Saya pernah kewalahan nalangin ongkir untuk mengirim pesanan sampai  harus mengeluarkan kartu kredit untuk membayar ekspedisi. Dua kartu kredit limit habis tidak sampe satu bulan. Apa ga pusing tuh kepala.

Metode  Pembayaran
Sebenarnya saya pernah Nulis metode pembayaran olshop di Blog lain. Panjang. Cukup rinci. Tapi karena Blog itu untuk tujuan monetisasi maka saya gak mau kasih link kesana hehe...

Tapi okelah ya. Kita bahas sedikit disini sebelum ngantuk. Lagian mba2 M2M dan teteh Celine Dion masih mau nemenin saya. The day you went away,  Because you loved me dan Immortality, dari tadi bolak balik 🤣🤣

Skip.. Skip..

Berjualan di MP penjual tidak punya kuasa menerapakan metode pembayaran yang di gunakan. Pihak MP sudah menyediakan ragam opsi pembayaran  untuk kemudahan pembeli.  Pembeli bisa bayar pake kartu kredit. Transfer Bank. Transfer emoney, bayar di gerai mini market, bahkan COD.
Bagi penjual sendiri  ini bukan masalah. Karena dia hanya perlu memiliki satu rekening bank untuk menarik dana hasil penjualan.

Sementara para penjual di Medsos di indonesia (termasuk di website sendiri), dalam pengamatan saya, ( koreksi jika saya salah) hanya menerapkan metode transfer bank. Itupun hanya sebatas bank itu itu saja.

Saya cukup kesulitan menganalisis kecenderungan ini . Ada pertanyaan besar di kepala saya yang sampai saat ini belum terpecahkan. Soal penggunaan transfer bank itu itu saja. Dan tidak adanya alternatif lain.

Ada banyak bank di indonesia dengan teknologi elektronik banking bagus. Ada  cukup banyak produk tabungan bebas biaya administrasi bulanan. Sementara yang banyak dipake bikin pusing kepala dalam hal user interface dan user experience. 

Persaingan Harga.
Ini yang paling ga enak. Persaingan harga di marketplace sudah sampe pada tingkat berdarah-darah. Sementara di media sosial terlihat lebih bersahabat.

Sampai sejauh mana persaingan harga di marketplace akan saya bahas khusus di lain waktu. Mengingat betapa kejamnya dunia marketplace, atau lebih tepatnya, saya sudah ngantuk.😁

Sampai jumpa. 

Sabtu, 16 Maret 2019

PERNYATAAN JARINGAN GUSDURIAN TERHADAP AKSI TERORISME DI CHRISTCHURCH SELANDIA BARU

Di ambil dari website gusdurian. Net
***
Hari ini dunia kembali berduka. Puluhan orang tewas tertembak dan terluka akibat aksi terorisme di dua masjid di Christchurch Selandia Baru. Aksi brutal teroris ini terjadi saat para korban tengah menunaikan ibadah salat jumat. Dua masjid yang menjadi target teroris ini adalah masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre. Kekerasan tersebut adalah tindakan jahat yang tidak bisa diterima oleh rasa kemanusiaan dan keadilan. Kita saat ini berada dalam era baru di mana peperangan antar negara berkurang, namun terorisme antar warga masyarakat meningkat dengan bahan ideologi kebencian kelompok. Dunia perlu segera menegaskan langkah menangani bentuk terorisme seperti ini. Para pelaku harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Ideologi pelaku untuk menebarkan kebencian tidak boleh menang.

**


Berkenaan dengan peristiwa berdarah di Selandia Baru tersebut, Jaringan Gusdurian menyatakan:

Pertama, menyampaikan duka mendalam,  hati dan doa kami bersama para korban dan keluarganya.

Kedua, mengutuk keras aksi terorisme penembakan jamaah jumat di dua masjid di Selandia Baru. Aksi kekerasan itu adalah perbuatan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ketiga, meminta kepada pemerintah Indonesia untuk memperkuat perlindungan kepada warga negara Indonesia yang ada di Selandia Baru maupun di belahan dunia lainnya.

Keempat, mengajak masyarakat dunia untuk bahu-membahu bergandengan tangan meningkatkan pencegahan dan perlawanan setiap aksi kekerasan yang berbasis pada kebencian terhadap identitas lain, sekaligus menghimbau agar mayarakat tidak terpancing dengan provokasi yang bisa merusak kerukunan.

Kelima, menghimbau kepada semua pihak untuk tidak menyebarkan video aksi kekerasan tersebut agar tujuan menebar kebencian dan teror tidak tercapai.

Koordinator Jaringan GUSDURian,

Alissa Wahid.


Sabtu, 02 Maret 2019

Di Simpang Jalan

Jalan ini. Malam ini tampak ramai.   Ojol hijau  biru menerobos  angkutan kota dan kendaraan berplate B.  Aku maklum. Ini malam minggu. Kota kecilku  banyak kedatangan tamu warga ibu kota.

Menoleh kekanan. Satu demi satu kulihat orang menambah suasana alun-alun.  Ada acarakah, atau hanya kebiasaan di malam minggu. Aku tak tahu.

Aku disini.  Ditengah kota ini. Bukan titik yang sering kusinggahi. Aku disini. Terdampar pada situasi yang aku sendiri tak tahu harus bagaimana.

Berharap  segelas kopi hitam dapat membantuku mengambil keputusan rasanya tidak mungkin. Rasanya kurang enak. Bagaimana mungkin bisa membuat aku terbang.

Tapi aku sadar. Memesan kopi di pinggir jalan ini adalah keputusan tepat. Aku bisa numpang duduk disini. Warung pinggir jalan. Dengan 3000 Rupiah aku bisa duduk sepuasnya. Meski yang kubutuhkan hanya satu atau dua jam dari sekarang.

Ya.. Jam dua puluh nanti. Satu jam dari sekarang. Aku janji ketemu Elsa di DD. Toko waralaba yang baru  mengubah brand menjadi D saja. 

Sementara jam dua satu, aku menyanggupi ketemu Rida. Di stasiun kereta.
Elsa punya rencana: di DD dia break sejenak. Menyiapkan kado. Untuk kemudian ke acara  ulang tahun temannya.  Bersamaku.

Semula aku keberatan. Aku tidak bersedia. Itu bukan kebiasaanku.

Aku orang kampung tulen. Ndeso. Hiburanku. Liburanku adalah sawah. Sungai. Kebun. Atau aktivitas khas orang desa. Duniaku ada dipedesaan. Kalaupun aku bisa berteman dengan orang-orang kota. Orang-orang kaya. Tak lain karena urusan pekerjaan. Selebihnya, aku adalah anak kampung. Titik.

Dalam perdebatan panjang. Di telp. Chat. Pertemuan. Akhinya Aku menyerah.

Pun begitu ketika aku ingin membatalkan rencana. Karena aku punya rencana lain di  jam 21, aku tak bisa berkilah. Dari pada ribut.

"Kamu sudah janji, Dre"  kata Elsa. Tegas.

Elsa yang ku kenal adalah orang  tegas, disiplin dan pintar.  Dia juga keras kepala, sama denganku. Galak, sedikit dibawahku. Egois, jauh diatasku.

Kombinasi karakter, di tambah kemampuan mengerjaan sampai pada hal-hal detil itulah yang kuduga Elsa di percaya supermarket tempatnya bekerja menjadi kepala kasir dalam waktu relatif singkat, 15 bulan saja.

Elsa yang lincah. Cantik. Andai saja kau bisa meredam sedikit ego-mu. Pasti aku sanggup berlama-lama. Ngobrol. Debat.
Aku tahu banyak tema yang di keluarkan dari isi kepalamu.

Elsa, andai kau bisa sedikit lunak. Mungkin di tiap pertemuan, tidak  mesti di akhiri pertengkaran. Kau bilang aku  kepala batu. Itu betul. Tapi kamu sendiri kepala apa?

Elsa, apakah tidak ingin mendengar sedikit saja nasehat ibumu: Sesekali mengalah. Apakah tidak bosan di tertawakan ibu dan adikmu : Awas dua jam lagi akan ada perang. Besok genjatan senjata.

Malam ini aku terkondisikan pada situasi serba salah. Aku salah. Ku akui aku salah. Kenapa aku harus menyanggupi permintaan Rida. Menjemputnya di stasiun. Jam 21. Sesuai jadwal kedatangan kereta.

Aku yang keras kepala kenapa tidak bisa mengatakan tidak padanya.

Aku coba jujur. Aku ada acara sama Elsa. 
Tapi aku tak sanggup dengan responnya.

"Siapa tahu kereta telat Dre"

"Bukannya kereta sekarang lebih ontime. Kalaupun telat ga seberapa"

"Kalo gitu kamu datang setelah  acaramu selesai. Nanti aku yg nunggu gpp"

"Ya ampun Rida. Selesai jam berapa aku gak tahu. Lagi pula kamu sanggup   berapa lama nunggu"

Aku berusaha menjelaskan pada Rida. Aku tidak bisa. Bukan tidak mau. Aku sudah terlanjur janji pada Elsa. Mana mungkin aku batalin.

"Gapapa Dre aku tunggu. Kalo jam 12 kamu ga bisa. Kabari aku ya. Biar ada kepastian. Nanti aku pulang sendiri."

"Eh.. Jangan.. Jangan gitu Rid.. Iya aku bisa.. Aku bisa .. Aku bisa sampe.. Bisa sampe sebelum kereta tiba... aku bisa Rid.. Aku usahain ya"

Aku mengenal Rida jauh sebelum mengenal Elsa. Aku sempat menjalin hubungan dengannya sebelum dipisahkan jarak.

Rida anak baik. Tidak banyak tingkah. Kalo dibanding Elsa, sifat Rida bertolak belakang 180 derajat. Kami tidak pernah bertengkar dar der dor.  Yang ada Rida malah sering nangis kalo berbeda pendapat.

Secara fisik tentu Elsa lebih menarik. Ah kok rasanya aku sombong.
Membandingkan fisik manusia. Sementara mereka sama-sama ciptaan tuhan. Dengan maksud dan tujuan yang kita tidak tahu.
Kenapa aku tidak bisa berpikir positif pada tuhan. Dengan rencananya. Menciptakan manusia berbeda secara lahiriah.

Rida meninggalkan kampung halaman dengan alasan klise perempuan desa: Mencari pekerjaan. Di desa susah cari kerja. Sayang ijazah kalo ga pake.

Kini Rida mudik. Dia bilang sudah cukup tiga tahun di perantauan. Di kota orang. Cukup menambah pengalaman. Semoga cukup modal untuk berwirausaha. Dan yang paling menyakitkanku: dia Ingin segera menikah.

Dengan siapa Rid?

Aku tak mendapat jawaban darinya selain tangisan.
**
Makin malam jalanan makin Ramai. Anak-anak muda. Milenia. Ceria. Tertawa.     Selaras dengan bintang-bintang bertebaran di langit sana. Malam ini indah bagi mereka.

Sementara aku sendiri. Disini. Terlibat pada pergulatan dilema. Masalah yang kubuat sendiri.

Kopi hitam ini sudah tidak masuk ke tenggorokanku. Hanya berbatang-berbatang sigaret yang jadi pelampiasan.

Ponselku tak lagi jadi alat hiburan dunia maya.  Kesana kemari yang dirasakan sebagai serba asem.

Anak-anak kaskus pada tiarap. Tidak ada yang seru buat di komentari. Mampir ke Facebook rasanya kok gitu-gitu aja. Spamer tak habis-habis. Demi kepentingan tak jelas. Warganet di arahkan untuk berdoa : Amin. Seolah-olah rakyat darurat berdoa.

Mampir ke IG, rasanya ini bukan duniaku. IG adalah cerminan rakyat bahagia. Bahagia semu atau sungguhan, tetap bertolak belakang denganku. Aku sedang bermasalah saat ini.

Sedikit terhibur masuk time line twitter. Kondisi "perang saudara". Hiruk pikuk cebong kampret tenggelam oleh cuitan lucu tentang kaum jomblo ngenes. Meme jomblo yang pada kondisi normal bisa membuat aku tertawa ngakak. Nyatanya, aku tak mampu bertahan lama. Aku keluar.

Lima belas menit jelang jam dua puluh teng.  Hp klasik kesayangan berdering. HP jelek. Hp yang sudah tak ada peminat ketika kucoba jual melalui status WA.

Siapa dia?

Semula kupikir Elsa. Tapi aku cepat sadar ini  bukan Elsa. Panggilan telp dari Elsa nyaris selalu via WhatsApp. Kalaupun telpon kenomor ini. Nada dering kubuat khusus. Lagu dari Lenka : Trouble is Friend. 

Nada dering sebagai pembeda supaya aku cepat angkat telepon. Kalo tidak,  bisa perang sebelum masuk tema. Intro yang tak nyaman didengar: Kok lama sih... Kamu dimana.. Sama siapa.. Dasar nenek lampir tidak bisa sabar umpatku dalam hati.. Kenapa ga sekalian bilang:  kamu dimana.. Sama siapa.. semalam berbuat apa.. Kalah Babang Tampan... Ya kan? Iya dong. Bener kan? Bener dong. Setuju gak? Setuju ajalah ya.

"Halo bray... " suara di seberang sana.

"Ada apa kaleng krupuk.. " jawabku sekenanya. Pelan. Ternyata yg menelponku Jokim, teman di kampungku.

"Eh.. banteng ijo.. Komodo liar.. Gajah duduk.." balas Jokim tertawa ngakak.

"Lagi dimana bray.. Ini anak-anak pada nungguin"

"Mars" kujawab  datar.

"Waduh kaco kamu bray.. Bisa mati.. Jangan mati dulu bray.. .. . Belum kawin.. Elsa mau dikemanain... wkwkekk.... "

Aku tak merespon serius celotehan si Jokim dan sahutan tiga tikus got di belakangnya.

Kembali aku terdiam. Berdebar jantungku. 
Dalam bebera menit aku harus memutuskan. Kekanan: Aku temui Elsa. Kekiri: Kutemui Rida, satu jam lagi.

Kanan Elsa. Kiri Rida.... Kanan Elsa. Kiri Rida... Kemana?

Dering ponselku berbunyi. Sebuah notif bar WA menggantung diatas layar. Ternyata dari Si Jokim.
=
Hasil voting bray :
Elsa : 2
Rida : 2
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🙏🙏🙏
=
Belum lagi aku sempat membalas chat Si Jokim. Sesosok wajah muncul di layar ponsel. Wajah yang sangat ku kenal. Wajah yang selama setahun ini hadir dalam keseharianku.  Elsa. Muncul dalam sebuah panggilan video WhatsApp.

Kumatikan.

Kutelepon dia dengan panggilan suara. Gagal.

Kupanggil lagi...

"Halo.. Aku udah nyampe Dre"

Aku diam sejenak.  Bergerak beberapa langkah. Menjauh. Supaya tak di dengar orang.

"Halo dre.. Halo .. Dre.. Dre.. "

"Iya.. Aku denger" jawabku.

"Kamu dimana Dre.. Aku udah nyampe"

"Sori El.. Aku ga bisa"

"Maksud kamu?" Elsa seperti terkejut.

Aku diam. Sepi.

"Kamu sudah janji Dre.. "

"Aku ga bisa El.. "

"Kamu bisa!"

"Nggak!"

"Bisa!"

"Iya bisa.. Tapi aku gak mau!"

"Kamu udah janji..!"

"Aku juga ada janji..!"

Elsa diam. Aku diam. Sepi.

"Begini saja....Aku kesitu. ..Antar kamu sampe tempat acara.. . Terus aku pulang.. Gimana"

"Kamu dimana?"

"Dua menit aku bisa sampe"

"Aku tunggu empat menit dari sekarang"

"Jawab rencanaku!"

"Tiga menit..!"

"Jawab..!!"

"Dua menit setengah..!!"

"Jawab dulu..!"

"Dua menit..!"

Tututut.. Tututut... Tututut.... Elsa memutus sambungan telepon.

Aku geram. Nafasku bergetar. Ingin rasanya kulempar ponsel ini. 

Aku terbayang wajah Elsa. Terbayang bagaimana memerah wajahnya saat dia marah. Sepersekian detik kemudian terlintas wajah Rida. Raut wajah yang hanya bisa menampilkan senyum dan tangis.

Aku disini. Malam ini. Seperti ada disimpang jalan. Saat ini. Detik. Aku harus memilih satu jalan : Kanan atau kiri.

Aku tidak bisa memilih dua jalan sekaligus pada saat bersamaan. Banyak jalan menuju roma. Tapi hanya satu jalan  yang harus di lalui.

Ketegasan Elsa tidak mau kompromi dengan penawaranku seperti memberi kejelasan soal ini. Cuma ada satu jalan yang harus kulalui.

Kuputuskan sekarang : Aku pilih belok kiri.

Salah atau benar keputusan yang kubuat malam ini, biarlah waktu yang akan menjawab.
===
Cerita ini Fiksi ya 😀👋✋

Minggu, 17 Februari 2019

Capek Baca Tribunnews.com

Tiap browsing dari ponsel saya selalu menggunakan browser google chrome.

Nah, setiap saya klik google chrome, ada berita yang disarankan oleh si peramban tersebut. Memang tautan yang disarankan ini bisa di hilangkan dalam pengaturannya. Namun saya memilih mengaktifkan saja, supaya gak terlalu ketinggalan kalo ada peristiwa penting.

Celakanya, tautan yang di sarankan seringkali mengarah pada portal berita tribunnews.com

Apa yang salah?

Ga ada yang salah. Hanya saja saya terlalu  capek bacanya bro. Satu berita bisa berapa halaman. Kadang tiga laman. Empat laman. Bisa jadi di berita lain sampe enam laman. Panjaaaaanngggg..... Melebar... Bersayap..bertele-tele... Wkwkwkk... Pusing deh gue..

Yang "menarik" dari portal ini adalah: kita akan sering kesasar ke portal daerah: Tribun Makassar. Tribun Manado. Tribun Bandung. Tribun medan, dll.

Yang lebih "menarik" lagi adalah catatan kurang lebih begini:  artikel ini telah tayang pada situs.... Bla bla.. Bla.. Tertuju tautan pada portal jaringan mereka.

Yang juga tak kalah menarik dari  tribunnews.com adalah konten. Yang disajikan banyak hasil olahan dari media sosial. Dari youtube. Dari Twitter ataupun  Facebook.

Maka jadilah konten yang di sajikan adalah berita ringan dari kehidupan masyarakat yang viral media sosial.

Apalagi yang menarik?

Dah segitu aja lah.. Baca artikel panjang aja capek apalagi nulis yang panjang-panjang kayak tribunnews.com 🤣🤣🤣

Rabu, 06 Februari 2019

Ngomongin PT Pos Indonesia


Aksi demo ribuan karyawan PT. Pos  Indonesia (Pak Pos) hari ini  menarik perhatian saya, termasuk sebagian warganet.

Bagaimana tidak, kita-kita yang telah hidup sebelum jaman SMS, e-mail dan instant messaging,  punya banyak memori dan keterikatan dengan pak pos / kantor pos. Setidaknya kesan itulah yang saya tangkap dari komentar pembaca di portal berita dan linimasa. Terlepas dari  sebagian  komentar nyinyir yang juga ikut mengiringi.

Pada dasarnya, sebagai buyer online di marketplace,  saat ini saya tidak memilih pos sebagai pilihan utama, meskipun juga tidak menjadikannya di opsi paling buncit.

Lain halnya jika  bertindak sebagai penjual online. Saya sudah lebih dari satu tahun tidak lagi menggunakan layanan pt pos indonesia.

Aksi demo ribuan pak pos di jakarta hari ini sedikitnya membuat saya bertanya :
Kenapa perusahaan jasa logistik dengan jaringan sangat luas.  (Bisa jadi) Di setiap kecamatan ada. Kalah bersaing. Malah dengan perusahaan swasta yang baru lahir kemarin sore. Malah kabarnya PT Pos Indonesia rugi.

Sebagai orang awam bisnis, saya tak habia pikir, perkembangan dunia e-comerce lokal yang semakin pesat, yang seharusnya jadi kue menggiurkan untuk pelaku induatri logistik ternyata tidak  dapat di maksimalkan pt Pos.

Belum lagi kalo kita  perhatikan lokasi kantor pos. Property-property mereka yang ada di pusat kota. Apa iya tidak bisa di manfaatkan menjadi ladang duit.

Ya sudahlah, sambil berharap pt pos bangkit, saya berbagi kisah masa lalu dalam hubungan dengan pt. pos.

- Pada masa kecil, saya sering di suruh  orang tua dan tetangga mengirim surat ke kantor pos. Posisi kantor pos yang berada di seberang sekolah biasanya saya kunjungi pada jam istirahat.  Saya bahkan masih ingat nama petugas pos cantik itu, namanya Rina. Mba Rina begitu saya memanggilnya. 😍

- Pada minggu kedua sampai ketiga  setiap bulan di medio 2012-2014, saya selalu menantikan kedatangan pak pos kerumah. 

Saya gatal ingin segera menerima sesuatu yang didalamnya  berisi lembaran kertas berisi angka 😁. Ya.. Kertas itu adalah selembar cek yang di terbitkan silicon valley bank sebagai  konpensasi  online earning saya dari perusahan periklanan Adbrite.  Cek itu lalu saya cairkan di BRI Kartini Cirebon, meskipun  harus menunggu 10-14 hari proses inkaso keluar negeri agar benar-benar cair. Masuk ke saldo tabungan.

Sayangnya, Adbrite kemudian bangkrut, sehingga saya tak lagi menantikan pak pos kerumah. Kalaupun beberapa kali pak pos masih mengantar amplop isinya bukan lagi  cek, tapi  voucher. Voucher Jco, Voucher BreadTalk, yang merupakan konpensasi dari mengisi waktu luang bersama perusahaan survey

- Sampai dengan (kalo tidak salah) akhir tahun 2015 saya masih rutin mengunjungi kantor pos. Antara tanggal 22-26 tiap bulan ke kantor pos ngambil western union yang merupakan "gaji  dari google sebagai konpensasi memasang iklan di blog.
Sekarang, atau sejak pembayaran google adsense bisa melalui transfer bank, maka saya pun tak lagi perlu ngambil western union di kantor pos.

- Sementara soal pengalaman kurang menyenangkan dengan pt Pos adalah ketika mengirim pesanan atas transaksi di tokopedia. Kirim ke sukabumi satu bulan  belum sampai. Setelah komplain sana sini, akhkirnya saya bertemu dengan mba Ratna, yang saat itu adalah customer service yang bertugas di kantor pos besar cirebon, area pelabuhan. Di proses. Besoknya barang sampe ke tangan pembeli di sukabumi. 

××
Menutup tulisan ini sekali saya berharap pt pos bisa bangkit. Semoga.

Selasa, 08 Januari 2019

Cebong vs Kampret

Bete baca media online sekarang-sekarang ini. Isinya di dominasi berita politik. Jual beli kata para politisi. Terkesan serius dunia mereka. Tapi Kalo dipikir-pikir kayaknya lucu juga.

Hari ini keluar berita Politisi A dalam gerbong X  ngomong blablabla..

Besoknya muncul tanggapan politisi B dari gerbong Y.

Ternyata begitulah dunia mereka.. Dunia politik.. Dunia media..  Dunia yang menelurkan cebong dan kampret.

Selamat bekerja untuk cebong.
Selamat bekerja untuk kampret


Kamis, 03 Januari 2019

Derita Orang Kampung : Mati Lampu

Memang semua akan merasa terganggu jika terjadi mati lampu. Namun saya harus cetak tebal bahwa pemadaman listrik oleh PLN lebih sering terjadi untuk area pedesaan. Orang-orang kota tidak kenal yang namanya pemadaman lampu bergilir. Kalo tidak ada masalah krodit  bisa dibilang up time area perkotaan  bisa 100% dalam satu bulan.

Bandingkan dengan orang-orang kampung seperti saya, seperti saat ini. Dapat giliran pemadaman listrik. Belum di hitung kondisi byar pet. Hujan lebat listrik mati. Ada petir, guntur, tanpa basa basi, lampu padam.

Mungkin orang-orang PLN  hanya menganggap kalo kebutuhan listrik orang-orang kampung hanya untuk kebutuhan penerangan, pompa air dan nonton TV.

Padahal, dikampung-kampung  ada aktivitas UMKM yang memerlukan pasokan listrik.

11-12 dengan PLN, operator seluler juga memandang sebelah mata orang-orang kampung... BTS - BTS mereka tidak di lengkapi energi listrik cadangan. Akibatnya, saat listrik PLN padam maka signal operator seluler pun menghilang. Lengkap sudah penderitaan orang-orang kampung.

Agak  beruntung bagi saya. Karena saat ini saya ada di basecamp, yang jaraknya dekat dengan BTS desa tetangga sebelah, sehingga signal masih dapat di cover. Saya masih bisa online  termasuk update blog ini. Coba kalo pulang ke rumah, ga bakal bisa ngapa- ngapain.



derawai.com 2012-2018 I About usI Contact usI